Selasa, 24 Februari 2009

AKU TAK MAU KEHILANGAN DIRIKU

Ini adalah awal aku masuk sekolah. Bukan berarti aku anak baru. BUKAN. Kali ini aku hanya menjumpai ajaran baru. Sulit bagiku menerima kenyataan kalau aku harus berhadapan lagi dengan kelas ini. Kelas yang tak pernah mendukungku. Kelas yang menjadikanku merasa tak punya semangat. Atau ini memang tempat dimana aku semakin tidak menemukan diriku sendiri???

Aaaaaaargh! Kenapa lagi diriku ini? Selalu ada saja yang kusalahkan. Tadi pagi aku menyalahkan orang tuaku karena tidak segera memberikan buku-buku. Tentu caraku menyalahkan hanya meruntuk dalam hati. Hatiku tak henti-hentinya menyalahkan, karena gara-gara tidak ada buku pelajaran baru, aku jadi malas belajar.

Yang ke dua, aku menyalahkan kakakku. Seorang perempuan cerewet yang tiap pagi tak pernah abesen marah-marah padaku. Kontan itu selalu terjadi karena aku selalu malas merapikan baju-baju kotorku yang berserakan di kamarnya. Kemarahannya membuatku jadi tambah malas. Karena emosi yang dia lampiaskan secara tidak sadar memancing emosi pada jiwaku. AAAAArgh! Salah siapa dia selalu menempati kamarku kalau mau belajar. Membuatku selalu memilih ganti baju di kamarnya.

Pagi ini aku juga menyalahkan sopir angkot karena keleletannya mengemudi. Aku jadi tidak sabar dan nyaris mau loncat saja dari angkot. Apa dia tidka punya hati sampai mau membiarkanku telat gara-gara angkotnya. Huh! Itu juga yang membuatku jadi sering malas ke sekolah. Angkot-angkot yang menjurus ke sekolahku selalu begitu!

Pagi yang menggila ini aku tersungut-sungut tak ada gairah menerobos gerbong sekolah. Bayang-bayang wajah angker milik guru-guru terus terang kembali menggelayuti otakku. Belum lagi bayangan akan anak-anak kelasku yang rata-rata pemalas. Membuatku ingin memekik. AKU SEBAAAAAAAAL!!!

Adakah yang bersedia menyatukan kembali harapanku. Aku harus punya harapan! Tapi bagaimana aku mendatangkan harapan itu?

Pagi yang masih menyisakan semilir dingin ini telah menjumpaiku di sebuah kelas yang sepi. Hanya aku sendirian di bangku tengah. Teman-temanku yang lain lebih memilih ke luar kelas daripada menunggu bel di kelas yang nyaris tidak ada satupun yang menyenangkan.

Hanya ada beberapa peta, tempelan-tempelah rumus, graffiti nama kelas. Gambar presiden dan wakilnya. Gurung garuda. Buku-buku di meja guru. Tidak perlu kusebutkan semuanya. Karena pada kenyataannya tidak ada yang menarik bagiku.

Aku membuka buku agenda. Membaca tulisanku setahun lalu. Tentang harapan dan cita-citaku. Target-target hidup dan berbagai kalimat-kalimat penyemangat. Aaaaaaaaaargh! Semuanya memudar. Kalimat penyemangat itu sudah tidak mempan untuk memompa semangatku.

Aku terlalu sering menghianati diriku sendiri. Berderet-deret target tidak ada yang beres. Jadwal-jadwal harianku banyak yang tidak kuperhatikan. Apalagi akhir-akhir ini. Hari-hari yang sangat menyebalkan buatku. Liburan yang biasanya membuatku tetap semangat belajar. Kini menjadi liburan paling mengenaskan. Aku menghabiskan liburan dengan bersantai-santai saja di rumah. Tidak ada refreshing, tidak ada jalan-jalan, tidak ada belajar.

Dua pasang sepatu menghentak ruang kelas. Kulirik mereka sebentar. Dua orang berseragam panjang dengan kerudung putih mulai mendekat ke arahku. Afra dan Hilda. Dua sahabatku yang paling setia jadi teman akrabku sejak SMP. Kebetulan dari SMP kami satu sekolah. Dan SMA ini, Alhamdulillah kami bersama lagi.

Aku tak menghiraukan kedatangan mreka. Aku lebih memilih memasang kepalaku di atas lipatan tangan yang kurebahkan di meja. Jari jemariku mulai mengetuk-etuk meja tanda aku masih sangat bosan.

“Hai Sil! Liburan kemana ni?” Tanya Afra membuatku terjingkat. Kuangkat kepalaku dan mulai mendongak menyaksikannya.

“Di rumah aja,” jawabku tanpa semangat.

“Duuuuuh kasian. Pasti di rumah belajar ya? Kerajinan bener kau,” goda Hilda dia mulai duduk di bangku belakangkuku. Dan Afra duduk bersebelahan denganku.

Aku tersenyum kecut. Mereka nggak tau kalau di rumah aku sedang terkena penyakit malas paling akut. Fiuh! Rasanya menyakitkan sekali.

“Aku kemarin ikut pelatihan di Jogja. Aku jadi delegasi Komunitas GEBRAK. Di pelatihan itu ada acara jalan-jalannya juga. Ni aku bawa oleh-oleh buat kalian,” Hilda mengeluarkan beberapa dua baju batik, dua gelang dan snack-snack. Ia letakkan oleh-oleh itu di meja.

“Ini aku beli di Marioboro,” ucap Hilda selanjutnya. Ada perasaan bangga yang menyelinap di hatinya karena sudah keliling di kota budaya itu.

“Makasih,” Afra semangat. Wajahnya yang putih bersih itu jadi merona karena bahagia.

“Thanks, Hil.” Ucapku sambil mengulur senyum. Biar bagaimanapun aku turut senang melihat Hilda yang bahagia seperti itu.

“Kamu masih aktif di Gebrak?” tanyaku.

“Iyalah. Sekarang programnya makin banyak. Ada tambahan kegiatan di sana. Kegiatan englishnya ditambahi, terus sekarang ada latihan soal lingkungan. Seru deh! Bias nambah wawasan.” Terang Hilda bersemangat.

Aku manggut-manggut. Rasanya tidak ada ketertarikan sama sekali. Mengingat aku yang sangat malas ini. Akhir-akhir ini aku sering sekali menunda-nunda pekerjaan. Yang akhirnya hampir semua pekerjaan pentingku tidak kelar. Aku yang rencananya mau bersih-bersih kamar kalau liburan, sampai sekarang belum juga mengerjakan. Terus rencanaku membaca dua belas buku juga nggak keturutan. Jangankan dua belas, satu aja belum kelar. Ada saja alasan yang membuatku bermalas-malas. Sering capeklah, meski nggak ngapa-ngapain. Bosan, males, lesu, nggak mood. Huh! Menyebalkan.

“Kamu, liburan ngapain Fra?” tanyaku pada Afra. Dia tengah melihat-lihat baju batik pemberian Hilda.

“Aku?” Afra tersenyum. “Aku banyak nulis di media. Banyak koran yang menawariku membuat artikel. Juga majalah-majalah islami juga banyak memintaku menulis cerpen dan tips-tips remaja.”

“Tips remaja? Apa aja?” tanyaku agak penasaran meski tak begitu semangat.

“Tips mengendalikan emosi, sabar menghadapi teman yang benci kita, cara mengatasi ego diri. Macem-macemlah, Sil.” Ucap Afra halus. Satu hal yang jadi ciri khasnya. Tiap bicara pasti selalu diselipkan senyum. Jadi yang mendengar juga jadi seneng.

“Tips menghadapai kemalasan ada nggak?” tanyaku.

Afra mengernyitkan dahi, “Kayaknya belum. Hmm… ide bagus juga itu. Penyakit malas kan bisa diderita siapa aja.”

“Iya. Termasuk aku. Huh! Sebal.” Gerutuku.

“Kamu kenapa sayang?” Tanya Hilda.

“Liburan ini aku males banget. Aaaaaah! Keknya ini gara-gara Mbakku yang cerewet itu. Tiap hari nyuruh inilah, itulah. Aku jadi malas kalo kebanyakan disuruh gitu. Terus dia sering banget megang computer. Cuman ngakses hal nggak penting aja. Huh! Padahal kalau liburan tu ya aku paling semangat kalau baca artikel di computer.”

“Kenapa kamu nggak baca buku aja?” Tanya Afra.

“Aku sih baca tiap malem. Tapi nggak konsen. Gara-gara adekku tiap hari selalu ngajakin temennya buat main PS di rumah”

“Kok nggak ke luar aja. Di belakang rumahmu kan ada taman. Asik juga kan baca di situ.” Ucap Hilda.

“Di taman nggak asik sekarang. Udah kotor nggak terawat lagi. Ayahku pulan kampong selama satu bulan. Katanya sih ada tetangganya yang minta dibantu apa gitu. Jadi nggak ada yang ngrawat taman belakang rumah. Ibuku sendiri udah sibuk di rumah.”

“Kenapa kamu nggak bersihin aja itu taman?” Tanya Afra.

“Males,”

“Yah kamu!”

“Udah gitu ya. Ayahku belum pulang-pulang juga lagi. Katanya sih masih sibuk di sana. Sementara aku belum dibelikan buku-buku pelajaran. Padahal kata kepala sekolah kan kita disuruh beli buku pelajaran sendiri. Uuugh! Kepala sekolahnya juga tu. Udah tau mengepalai sekolah, nggak mau ngusahain beli buku buat siswanya apa.”

“Bukannya nanti kita beli buku dari sekolah ya?” Afra memastikan.

“Enggak, Fra. Kita itu disuruh beli buku pelajaran di luar. Sekolah tahun ini nggak menyediakan. Ada sih sedikit, tapi itu buat pegangan guru.” Hilda menjelaskan.

“Pokoknya kepala sekolah harus bertanggung jawab atas kemalasanku ini. Salah sendiri sebelum liburan dia udah memberi berita kalau sekolah tahun ini nggak sedia buku banyak. Pakek nyuruh kita beli buku di luar segala lagi. Bikin aku jadi mikir tu. Mana kalau di luar buku-bukunya tambah mahal lagi. Huh!”

“Tau tuh. Bukannya sekolah kita ini buku-bukunya terbitan sekolah sendiri ya?” Hilda memastikan

“Iya. Materinya aja yang agak sama kaya sekolah lain. Tapi biasanya guru-guru kita menambahi materi lagi dalam buku cetakan sekolah kita. Terus kenapa coba sekarang ini kita disuruh beli buku di luar.” Ucapku dengan hati yang masih beku.

“Karena untuk kelas tiga memang begitu. Jadi materinya mutlak dari buku-buku panduan kaya sekolah-sekolah lain. Kan mau ujian.”

“Nah itu juga tu yang bikin aku nggak semangat. Kelas tiga ini pasti kita udah dihantui sama yang namanya ujian. Bikin tambah males aja. Padahal aku rencanya mau konsen ke bidang-bidang tertentu. Nah kalau kepentok ujian ya konsentrasiku pindahlah.”

“Jangan jadikan ujian sebagai alasan. Toh ujian akhir cuma formalitas doang. Kakak sepupuku aja ni ya, yang bego kaya gitu bisa lulus. Apalagi kita?” Hilda mulai beranjak dari tempat duduknya.

“Jangan gitu. Dulu aja ada yang pinter banget bisa nggak lulus. Orang dia menang Olimpiade Fisika. Udah gitu udah keterima di Universitas Luar negri.”

“Parah banget,” Hilda merespon. Ia mulai duduk di bangkunya.

“Yang kek gitu aja nggak lulus lho.”

“Ya udah. Nggak usah anggep ujian jadi hasil evaluasi. Itu bukan untuk mengukur kemampuan tapi untuk adu keberuntungan,” tanggap Afra.

Kami tergelak bersama.

“Orang temannya kakakku dulu aja tinggal coret lingkaran aja bisa lulus.” Kata Hilda.

“Berarti ujian nggak usah dihawatirkan. Dan itu juga bukan jadi alasan atas kemalasanmu.” Ucap Afra.

“Ah! Gimana-gimana aku juga mikir.”

“Udah nggak usah terlalu dipikirin. Yang perlu dipikirkan sekarang gimana caranya kamu bisa semangat belajar. Kalau kamu semangat belajar pasti kamu nggak males. Lagian belajar kan juga bukan buat ujian aja. Ujian hanya sekilas lalu. Setelah ujian kita masih melanjutkan hidup.”

“Ya kalau lulus. Kalau enggak?” tanyaku.

“Ya semoga lulus dong.” Jawab Afra cekatan. “Tapi yang pasti lulus atau tidak itu nggak penting. Lebih milih mana kamu, lulus tapi tetep nggak punya semangat. Atau nggak lulus tapi semangat belajarmu tinggi?”

“Ya pilih lulus dan semangatnya tinggilah.” Jawabku serius. Kalau ngomongin masalah lulus emang kaya ngomongin hidup dan mati. Karena kalau nggak lulus bisa malu banget. Asli!

“Bukan berarti yang nggak lulus itu bodoh.”

“Iya sih. Tapi pandangan orang lain itu lho.”

“Makanya jangan malas. Kalau kamu nggak malas ya biarpun nggak lulus kamu masih bisa mempertahankan kredibilitasmu. Kalau mau jadi orang berhasil itu jangan malu. Kita buktikan saja kalau kita juga bisa berprestasi. Jadi kalau kita tidak lulus orang lain akan berpikir kalau kita itu tidak beruntung. Bukan kitanya yang bodoh. Missal kaya yang juara Olimpiade fisika tadi. Meski dia nggak lulus pasti dia nggak malu-malu amat. Orang dia sudah membuktikan pada dunia kalau dia memliki prestasi. Kalau sampai tidak lulus berarti itu masalah ketidak beruntungan saja.”

“Tapi tetep aja malu.” Sergahku.

“Gini deh. Kita positive thinking aja. Masalah lulus nggak lulus itu urusan ntar. Yang penting sekarang kita nggak boleh males.”

“Gimana ngatasi kemalesan, Fra?” tanyaku nggak sabar.

“Jangan salahkan orang lain atas kemalasan kita. Belum tentu orang lain merasa bersalah sama kita. Sebenernya kita sendirilah yang paling berpotensi mengatasi masalah kita. Kita yang harus mengendalikan rasa malas, bukan kita yang dikendalikan rasa malas. Satu-satunya yang bisa membuat kita mengurangi malas itu ya memaksa diri kita. Terus kalau melakukan sesuatu jangan ditunda-tunda.”

“Yah itu kebiasaanku tu.” Ucapku menyela kalimat Afra.

“Jangan dipiara itu.” Afra terlihat serius. “Kita harus punya cita-cita dan pandangan ke depan. Pandangan kita nggak boleh sempit. Masak cuman gara-gara ujian akhir terus bikin kita males. Itu namanya pandangannya sempit. Kita belajar itu bukan cuman mentok buat ujian aja. Kita belajar menyiapkan masa depan.”

“Aku udah nggak tau nih cita-citaku apaan. Hidupku mengalir gitu aja. Aku nggak kaya kamu yang sibuk nulis di media. Juga nggak kaya kamu Hil yang sibuk di komunitas Gebrak.”

“Nggak sibuk juga nggak apa-apa. Asal produktif. Waktu kita nantinya juga akan kita pertanggung jawabkan. Jadi sebisa mungkin gunakan waktu sebaik-baiknya. Pokoknya jangan terlalu sering bersantai deh. Tapi bukan berarti kamu harus memaksa dirimu untuk terus sibuk sampai lupa waktu. Sibuk sama produktif itu beda lho. Yang paling penting itu manfaatnya.”

“Aku sempat putus asa, Fra. Apalagi kalau bicara soal cita-cita. Aku nyaris berhenti mengejar cita-cita.”

“Itu dia tu. Kita juga nggak boleh berhenti ngejar cita-cita. Jangan keseringan teledor. Bikin jadwal deh, Sil. Bukanya dulu kamu sering bikin jadwal.”

“Iya tapi aku sering menghianati diriku sendiri,”

“Ya jangan dibiasakan. Jangan keseringan melakukan hal-hal yang meyimpang. Parahnya kalau sampai keseringan nunda-nunda pekerjaan. Jangan nunggu semangatmu layu,”

“Kita emang musti maksa diri keita sendiri. Terus ngasih motivasi ke diri kita.” Lanjut Hilda.

Aku terdiam. Menyerap kata-kata mereka. Aku sempat tersentak mendengar tanggapan mereka yang sangat serius itu. Dulu kukira penyakit malasku, nanti akan bisa hilang sendiri kalau sudah waktunya. Tapi semakin hari, penyakit ini makin menggerogoti jiwaku saja. Makin ganas kalau kurasa. Aku emang harus berubah. Salah besar kalau aku terus-terusan menyalahkan orang lain atas kemalasanku. Aku sendirilah yang harus merubah gaya hidupku. Aku yang harus memulai. Aku nggak mau kehilangan diriku gara-gara rasa malasku sendiri.

SILMA yang malas bukanlah sejatinya diriku. Aku bukan pemalas! Aku harus bergerak.

***

Malam ini aku kembali membuka agenda. Kembali mengisi agenda yang sudah lama tak tergores tinta.

Penaku mulai menapaki bagian kosong dalam agenda. Aku mulai menulis daftar harian. Otakku kupaksakan untuk berpikir. Kali ini aku menulis sepuluh tugas yang harus kukerjakan. Lima pekerjaan rumah, dan lima lagi pekerjaan sekolah. Aku memasang target satu hari harus membaca buku minimal setengah jam.

Di lembaran berikutnya, aku membuat rencana agenda mingguan. Tentang jadwal pelajaran dan jadwal ekstrakulikuler. Kutulis semuanya dan kuatur semua waktunya. Tahun ini aku harus banyak kegiatan dan banyak mendapatkan sesuatu. Nggak boleh kosong.

Tulisan besar kutulis di lembar berikutnya.

FOKUS DAN KONSENTRASI PADA APA YANG SEDANG KAMU HADAPI!!! SEMANGAT, SILMA!!!

***

Pagi ini aku bangun sangat pagi. Lebih pagi dari biasanya. Semalam aku sudah menyusun jadwal untuk hari ini.

Aku bangun sebelum subuh. Sholat tahajut dan berdoa. Usai subuh aku sempatkan membersihkan taman. Aku sudah bertekad, jadi aku tidak boleh malas. Kalau taman bersih, maka tidak ada alasan lagi untuk malas membaca di taman.

Setelah menyapu taman, aku baca buku sebentar di taman. Sambil mengantri kamar mandi. Adikku kalau mandi emang rada lama.

“Silma! Lantai ruang tamu disapu tu. Terus rapikan buku-bukunya. Jangan males dong! Gentian kamu yang bersih-bersih!” Teriak Mbak Ambar yang baru saja keluar dari pintu belakang rumah.

Hatiku nyaris protes tapi aku menyegahnya. Kali ini aku bergerak. Aku berusaha menuruti perintah kakakku itu tanpa komen macem-macem. Yah! Aku coba menurut aja, siapa tahu dengan ini aku bisa mengobati kemalasanku.

Aku harus melakukan sesuatu! Itulah yang mulai kutekankan pada diriku.

NGGAK ADA KATA MALAS. DEMI MASA DEPANKU!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar