Satu-satu, daun-daun. Berguguran tinggalkan tangkainya.
Satu-satu, burung kecil berterbangan tinggalkan sarangnya…
Jauh..jauh tinggi…
Ke langit yang biru…
Aku masih berdiam diri merapatkan tembok di samping kelas ketika lagu itu dinyanyikan oleh salah seorang murid di sekolah adikku. Mungkin dia sedang menyiapkan diri untuk penampilannya hari ini. Pagi ini aku menggantikan orang tuaku menghadiri acara Gelar Karya siswa sekolah Raihan, adik terakhirku.
Hatiku tersentak, dadaku sesak, air mataku menggenang di pelupuk mata. Lagu itu, mengingatkanku pada memory enam tahun silam. Sebuah perpisahan masa SD membawa keharuan tak tertahankan.
Suara merdu milik Shania masih terekam jelas dalam ingatanku. Tak mungkin kulupakan suara itu. Jangankan suara. Bahkan tingkah lakunya, tutur sapanya, ceritanya, candanya, tawanya, senyumnya, cara dia berjalan, makanan kesukaan, sampai jadwalnya main ke rumahkupun masih jelas teringat.
Ada yang pernah bilang, friendship is soul of life…
Maka bukan hal yang mengherankan kalau sahabat sangatlah berharga buatku. Hari-hari bersamanya juga merupakan hari-hari berharga. Hari-hari dimana luka pernah dipikul bersama, suka pernah dirasa bersama, tangis dan bahagia pernah dinikmati bersama, ketika lukanya jadi lukaku. Bahagianya jadi bahagiaku. Ketika kebaikannya tertular padaku. Kepintarannya mempengaruhiku. Keberaniannya, melindungiku.
Sebenarnya, kami baru sebentar bersama. Dia pindahan dari Aceh. Gadis berparas kearab-araban ini masuk SDku di akhir kelas lima. Aku masih ingat betul model rambutnya saat pertama kali masuk sekolah. Panjang dan bergelombang di bagian bawah. Dia mengenakan bandana biru agak besar. Sejak pertama kali menginjakkan lantai kelas, dia sudah banyak mengulur senyum. Terkesan ramah dan penuh ceria.
Hari itu juga Bu Ambar memintanya duduk di sampingku. Karena kebetulan Hesti, yang biasanya duduk bersamaku tak berangkat kali itu.
“Shania,” ucapnya seraya mengulurkan tangan. Senyumnya merekah, mendamaikan hati.
“Lia,” aku menjabatnya.
Awal perkenalan yang membukakan gerbang kisah yang tak terlupakan. Persahabatan yang amat sangat tak bisa sedikitpun lebur dalam ingatanku hingga saat ini.
Shania banyak membantuku, itu yang paling kuingat.
***
Aku mulai berjalan menyusuri sekolah. Kukira saat ini Raihan sedang menyiapkan tampilannya bersama kawan-kawan satu kelasnya. Maka kuputuskan untuk menyusuri tiap-tiap sudut yang kenangan di dalamnya sangat kurindukan. Meski kebetulan Raihan bersekolah di sekolah yang sama denganku dulu, tapi aku sendiri sangat jarang mengunjunginya. Paling hanya sekali dua kali, itupun untuk mengantar atau menjemput. Kesibukanku di sekolah membuatku tak menyempatkan waktu sekalipun untuk masuk walau sekedar melihat suasana sekolah. Dan di Ahad yang ceria ini. Aku ingin menyusuri tiap sudut yang hendak membawaku pada masa silam.
Kulangkahkan kakiku ke belakang sekolah. Bayangan Shania terasa sangat dekat. Otakku mereview kembali kenangan bersama anak ke dua dari dua bersaudara itu. Aku merasakan kembali betapa indahnya hari-hari yang tak terlupakan.
Ialah kebiasaan kami mendiami belakang sekolah saat istirahat. Membeli nasi sambal dan gorengan lezat di warung kecil yang tak jauh dari situ. Kemudian makan bersama sambil melihat pemandangan hijau yang membentang di belakang sekolah. Dulu, sawah masih luas membentang. Bahkan, sesekali terdengar bunyi kodok ngorek, atau burung-burung pemakan padi. Di dekat kami juga ada ladang milik sekolah yang isinya beragam. Kebanyakan ditanami buah-buahan. Kalau lagi musimnya, belakang sekolah bakalan jadi tempat favorit warga sekolah. Tapi sekarang, kulihat keadaan sudah banyak berubah, terkesan makin kering kerontang. Sebuah bangunan SMP terbenatang seluas empat hektar lebih telah merubah pemandangan. Menggantikan suasana sejuk yang dulu pernah kurasakan. Aku yang dulu merasa nyaman kalau berada di tempat ini, sekarang merasakan gerah tak terkira. Ada sesuatu yang terenggut dari hatiku. Tapi, tak kupikirkan terlalu dalam.
Hmm… di belakang sekolah itu, Shania sering menceritakan kehidupannya. Tentang lingkungan Aceh yang rawan konflik. Mengenai manusia-manusia Aceh, tentang masalah GAM dan TNI dan segala hal mengenai dirinya. Dia ceritakan detil seluk beluk cerita tentang Aceh. Aku sendiri malah jauh lebih paham diceritakan begitu ketimbang mendengarkan dekte dari guruku. Karena tidur menjadi kebiasaanku tiap pelajaran sejarah. Eitz.. jangan salah. Meski begitu, yang mengherankan adalah sekarang ini aku begitu menyukai sejarah. Mempelajari sesuatu yang lalu untuk menentukan langkah ke depan. Mengenang perjuangan orang-orang pada masa lalu yang begitu gigih. Yang begitu berbeda dengan masa sekarang. Masa dimana Orang-orang lebih memilih segala sesuatu yang instant. Sepertiku.
Dan satu catatan penting dalam hidupku, Shanialah yang membuatku tertarik pada peristiwa sejarah. Karena dia sering bercerita tentan sejarang dengan gaya cerita yang sangat menarik.
Aku duduk sebentar menikmati pemandangan kerontang ini. Meski demikian, rasa rindu itu terus menyusup. Menyisakan sesak di dada. Dan perasaan ingin bertemu terus bertautan menguasai hatiku. Duhai sobat, dimana kamu???
Tak lama setelahnya aku jalan kembali. Beranjak dari tempat yang kurindukan memory di sekitarnya.
Shania. Entah dimana dia sekarang. Puluhan surat kukirim. Tapi tak ada tanggapan. Aku hanya ingin minta maaf. Hanya itu keinginan terbesarku.
“Mbak!!!” seseorang berteriak memanggilku.
“Kenapa, Ray?” tanyaku berkelanjutan setelah membalikkan badan untuk menatapnya. Kulihat Raihan di depan toilet belakang sekolah.
“Acara sebentar lagi mulai. Ayo!” serunya.
“Iya, aku mau ke sana dulu. Sebentar lagi aku ke aula.”
“Hati-hati kalo jalan-jalan. Jangan sampe ilang,” celutuknya menggelikan.
“Iya,”
Aku kembali berjalan, meski Raihan membuyarkan anganku barang sebentar.
“Mbak Lia sudah besar sekarang?” Mbok Minah menyapaku begitu aku lewat di depan tempat ia berjualan.
“Iya, Mbok.” Jawabku seraya menunjukkan senyum.
Dia Mbok Minah. Salah satu saksi dari memory masa lalu. Di sinilah biasanya aku dan Shania membeli kacang rebus atau ketela goreng. Yang menjadi favorit adalah keripik talas. Keripik inilah yang biasanya menemani kami dalam kesuntukan selama di kelas. Kami berdua sering makan diam-diam kalau musik. Teori not dan semacamnya membuat kami bosan. Teori itu sudah diulang-ulang terus dari kelas empat. Menurutku sangat menyebalkan. Pusing aku dibuatnya. Rasa bosanku dengan rasa bosan Shania mungkin beda. Shania merasa bosan karena dia sendiri sudah mahir dalam bermain musik. Masalah teori sudah sangat dia kuasai. Jangankan teori. Prakteknya saja dia sudah sangat mahir. Tak sepertiku, teori dan praktek sama saja. Tapi ada yang penting buatku, yang mengenang juga. Aku lumayan mahir dalam bermain seruling. Sebelum Shania pindah ke sekolahku, aku selalu mendapat nilai tertinggi di bidang main seruling. Dan untuk tes teori aku mendapat urutan ketiga dari terakhir.
Jalanku tak kupercepat, meski kutahu acara di aula sudah dimulai. Suara MC sudah terdengar beberapa menit lalu.
Kunikmati angin ini dengan penuh kenikmatan berbumbukan kerinduan. Jalan-jalan ini, tanaman-tamanaman, semuanya pernah jadi saksi. Membuatku seolah ingin sekali kembali ke masa lalu. Di jalan-jalan ini aku dan Shania pernah berlari-lari membasahi diri dengan air hujan yang turun lebat. Hujan seperti menjadi sahabat kami. Kami begitu mencintai hujan, meski tak jarang kami berdua mendapat omelan dari orang tua karena basah kuyup tiap pulang sekolah.
Kudengar acara sudah pada acara inti. MC sudah mengumumkan acara berikutnya yang berupa PENSI dan Gelar Karya. Tapi aku masih malas untuk duduk diam di ruangan itu. Aku masih ingin menikmati suasana luar sekolah yang justru memberikan banyak kenangan. Aku ingin menuntaskan rinduku di sini. Mataku masih belum lelah. Dan anganku masih ingin diajak memutar masa lalu yang indah dan menyenangkan itu.
Satu-satu, daun-daun berguguran tinggalkan tangkainya.
Lagu itu…
Aku tergopoh mempercepat langkah. Karena tak juga sabar, akhirnya kakiku membawa lari seluruh tubuhku menuju aula. Aku begitu merindukan lagu itu. Lagu yang sejak perpisahan sekolah sudah tak pernah kudengarkan lagi hingga hari ini.
Akhirnya aku meraih Aula. Empat siswa menyambutku. Memintaku mengisi buku tamu. Setelah kuisi, satu dari mereka menyodorkan kardus berisikan snack. Tak lama, aku segera masuk dan memilih kursi kosong yang nyaman. Di tengah wali-wali murid, aku mendiami sebuah kursi merah tua. Aku berada di deretan wali murid yang apes dan mendapat kursi tua. Ini untuk wali murid yang datang terlambat. Kulihat kursi-kursi yang lain lebih bagus dari kursi yang ada di belakang sendiri sepertiku. Tapi yang kupikirkan sekarang bukan masalah kursi, tapi tentang kenangan itu sendiri.
Aku melirik deretan kursi depanku. Hatiku terlonjak tak terkira. Aku menemukan satu kursi yang di belakangnya ada tulisan namaku dan nama Shania. Rasanya tak mungkin terjadi. Tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau tulisan itu masih melekat. Kenapa kursi itu masih ada? Dan atas dasar apa panitia acara memilihkan kursi itu untuk ditempatkan di sini? Entahlah…
“Mau apa Shan?” pertanyaanku pada Shania siang itu mulai teringat.
“Sssst. Rahasia ya,” ucapnya yang kemudian agak menunduk sambil membawa tipX. Siang itu adalah siang yang bersejarah, karena itu terjadi setelah perpisahan sekolah
“Kenapa sih?” tanyaku heran.
Shania tak menjawab. Hanya saja tangannya mulai bergerak. Kuikuti terus gerakan itu.
Tak kusangka dia menuliskan nama kami berdua di kursi yang sebelumnya ia tempati saat acara berlangsung.
Aku terkekeh saat itu. Tapi kemudian tambah dibuat geli dengan pernyataan konyol Shania.
“Beberapa tahun lagi kalau kita kembali kita akan lihat. Kursi ini masih ada apa enggak. Kalau masih ada, berarti kursi ini juga soulmate kita,”
“Iiigh soulmet katamu. Hahaha…” aku tertawa lepas.
“Kan, benda juga ciptaan Allah,”
“Iya, tapi ini kursi nggak punya perasaan kaya kita, Shan.”
“Tau darimana?”
“Dari logika,” telunjuk tanganku mengarah ke kepalaku.
“Tapi Allah tahu semuanya. Dan menjadikan yang tak mungkin menjadi mungkin. Kursi ini emang hanya benda, Li. Tapi kursi ini kelak bisa jadi saksi persahabatan kita. Persahabatan yang semoga Fillah,”
“Fillah?”
“Iya bersahabat karena Allah. Jadi kita bertemu adalah karena Allah dan berpisah juga karena Allah.”
Itulah kali pertama aku mendengar sahabat Fillah. Dan di aula inilah Shania menjelaskan padaku tentang itu. Dia bercerita kalau misal salah satu dari sahabat masuk ke surga dan yang lain tidak, maka sahabat itu bisa menolong yang tak masuk ke surga. Tentu hanya dengan rahmat Allah.
“Tapi, harapanku kita bersahabat fillah dan sama-sama di surga biar sama-sama dekat sama Allah,” ucapnya.
“Tentu,” ucapku sumringah.
Di tempat inilah kami memiliki tekad untuk bersahabat fillah. Entah bagaimana caranya, saat itu kami tak tahu. Yang kami tahu pokoknya fillah.
Dan mengenai kursi itu, kini seperti bercahaya sendiri menurutku dibandingkan kursi yang lain. Bahkan jika dibandingkan kursi-kursi baru, kursi merah tua itu terlihat paling indah.
Andaikan aku punya sayap. Kukan terbang jauh mengelilingi angkasa. Kan kuajak ayah bundaku terbang bersamaku melihat indahnya.
Seorang gadis kecil yang umurnya sekitar delapan tahun menyanyikan lagu itu dengan suara sangat merdu. Aku terkesima melihat kepe-deannya menguasai panggung. Di belakang mereka ada beberapa penari balet. Di pojok kanan ada cowok berjas putih dengan wajah putih bersih tengah memainkan jarinya di atas tuts-tuts keyboard.
Lagu itu menyentuh langsung dalam sukmaku. Pertahananku akhirnya jebol. Air mataku mengalir penuh rindu. Lagu itu mengingatkanku pada perpisahan itu lagi. Dan lagi-lagi mengingatkan aku pada Shania. Sahabat terbaik yang pernah kutemui.
***
Pagi itu saat pelajaran seni. Pak Abdi, guru kesenian memintaku mewakili sekolah untuk mengikuti lomba menyanyi tingkat kota. Tak ada angin, tak ada hujan, aku diminta lomba menyanyi???
Sebuah tragedi bersejarah ini, pikirku saat itu. Mungkin ini hukuman buatku karena aku terlalu sering menyepelekan pelajaran musik. Hh, tapi apa hubungannya? Atau jangan-jangan Pak Abdi hanya ingin mempermalukanku di depan teman-teman satu kelas?
Yang pasti saat itu juga, cemooh dari teman-teman satu kelas meraung-raung. Semua tertawa, kecuali Shania. Mungkin mereka ingat waktu aku nyanyi Pahlawan Tanpa Tanda Jaza saat pelajaran vocal. Karena saat itu aku lagi serak, jadi suaraku yang sudah tak enak makin tak enaklah.
Aku hanya diam terpaku. Membungkam mulut, kesal. Kulihat Shania barang sebentar. Dia sedang menatapku penuh iba. Mungkin karena tahu kalau suaraku itu mamang merdu alias MERUSAK DUNIA. Aku tak pernah ikut lomba menyanyi, dan menyanyi bukanlah hobbyku. Aku tak suka menyanyi meskipun aku lahir dari darah seni. Aku memiliki Ibu dengan suara merdu dan Ayah yang menguasai beberapa alat musik. Bahkan Ayah sering mengaransemen musik nasheed-nasheed kota. Mbak Firkha, memiliki suara bagus seperti Ibu dan Mas Arman juga memiliki suara emas. Raihan yang masih kecil juga sering menyanyi dengan suara merdunya. Hanya aku yang tak suka menyanyi.
“Kenapa aku, Pak?” ucapku dengan nada kesal.
“Kamu yang dipilih,”
“Siapa yang milih?” mataku membulat semakin kaget campur kesal.
“Pak Syamsul Ma’arif”
GUBRAG!!! Kepalaku serasa menciut. Saat itu yang terlinas dalam anganku adalah gaya Kepala Sekolahku yang sangat berwibawa itu. Aku tak berani berkomentar. Satu kalimatpun tidak. Yang terlintas dalam benakku, kenapa bisa???
Setelah pengumuman menjengkelkan itu. Raut wajahku kutekuk ribuan kali. Bahkan sampai pulang sekolah aku tak mau kompomi dengan yang namanya keceriaan. Saat istirahatpun aku hanya di kelas. Suara guru kesenian pagi itu tak bisa hengkang dari pikiranku.
“Kamu bener-bener nggak suka nyanyi ya?” Tanya Shania sepulang sekolah. Dia dan aku tak juga beranjak dari tempat duduk. Ini pertanyaan pertama yang ia lontarkan sejak pelajaran kesenian tadi. Mungkin tadinya dia ngeri ngeliat wajahku yang geram dan tak mengenakkan hati.
“Aku benci!!! Aku nggak suka, Shan. Aku nggak bisa.” Ucapku meledak-ledak.
“Kenapa nggak kamu tolak?”
“Nolak? Nolak Pak Ma’arif? Mana bisa!”
“Tapi kan pasti ada dibicarakan dulu, Li. Kalau kamu bisa ya lanjut, kalau enggak ya udah jangan dipaksa.”
“Nggak mungkin. Aku sulit menolak permintaan kepala sekolah sebaik Pak Ma’arif,”
Aku diam untuk sementara waktu. Begitu pula dengan Shania. Kelihatannya yang kami pikirkan sama. Kedermawanan Pak Ma’arif, kewibawaan, kebijaksanaannya, semuanya.
Pak Ma’arif yang setiap pagi berangkat hanya dengan sepeda tua. Beliau tetap berangkat pagi meski sebelumnya beliau loper koran terlebih dahulu.
Tiap Pak Ma’arif terlihat memasuki gerbang sekolah, banyak siswa berkerumunan terutama angkatanku. Ada yang membawakan tas beliau, sepeda beliau, ada yang menggandeng beliau di kangan dan di kiri. Dan yang lain mengikuti dari belakang sampai ruang kepala sekolah. Aku yang selalu kebagian bawa tas berat itu. Teman-teman lain paling enggan membawa tas itu. Bagiku tas seberat apapun tak jadi soal. Sebab ada kepuasan tersendiri ketika menenteng tas itu. Apalagi setiap pagi itu, aku dan teman-teman tak pernah absent kebagian cerita tentang berita hari itu dari Pak Ma’arif. Karena Pak Ma’arif selalu menyempatkan diri membaca koran sebelum ke sekolah. Sehingga pengetahuan tentang berita pagi itu bisa langsung dibagi-bagikan pagi itu saat kami mengiringin langkah teguh Pak Ma’arif menuju ruang kepala sekolah yang tak terlalu besar.
Aku juga ingat, Pak Ma’arif sering mengajak kami berdiskusi sebentar di ruangan itu. Beliau menunjukkan kliping koran miliknya. Yang kemudian menyuntik motivasi kami untuk mengikuti langkah beliau. Yaitu mengabadikan berita-berita dan tulisan-tulisan menarik dari koran.
Satu kelas, ada delapan anak yang kemudian menyukai kegiatan mengkliping koran. Satu diantaranya ada aku. Aku paling suka mengkliping berita-berita yang ekstreem. Kebakaran hutan, kebakaran pasar, perampokan, korupsi, siswa putus sekolah, demo, dan lain-lain. Entah tujuanku saat itu, yang pasti aku suka mengumpulkan berita semacam itu. Sampai-sampai kalau di kelas, yang kuobrolkan dengan anak pecinta koran lain hanya tentang berita-berita mengenaskan.
Beda dengan Shania. Dia lebih suka mengumpulkan tulisan seputar seni. Mulai dari puisi-puisi dan karya-karya sastra yang lain. Dia juga mengumpulkan berita-berita seputar dunia artis. Pemain-pemain musik barat, pelukis-pelukis terkenal, dan segala hal berkaitan dengan seni. Tak peduli seni suara, seni rupa, seni musik, seni tulis, dan lain sebagainya.
Beda lagidengan Ardi. Dia lebih aneh dariku. Entah apa tujuan sebenarnya, tapi dia begitu suka mengumpulkan berita tentang acara-acara TV. Juga berita tentang film-film terbaru. Mungkin film menjadi kesukaannya. Di kelas, dia dikenal fanatic film. Kalau sudah bercerita soal film tertentu, bisa dari prolog sampe Ending diceritakan semua. Nggak tanggung-tanggung, dia bahkan menceritakan bagaimana kostum yang dipakai pemeran, serta tak jarang memperagakan dengan penuh percaya diri.
***
“Bisa dibayangin nggak sih kalau aku nyanyi?” gerutuku pada Shania saat istirahat di hari berikutnya.
“Bisa kok,” ucap Shania enteng. Dia masih asik dengan permen lolipopnya.
“Iya tapi kan aku nggak bisa nyanyi, Shan.”
“Bisa. Cuman nggak biasa aja,”
“Terus?”
Diam. Tak ada respon dari Shania. Akupun ikut diam kali ini kuperhatika semak-semak yang ada di belakang sekolah itu. Memang tak ada apa-apa, sebatas pelarian mata saja. Dengan tetap berpikir pada masalah yang sama.
“Shan! Duuuuuuuuuh gimana niiiih,” gerutuku lagi. Aku benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana malunya kalau ikut lomba itu.
“Ntar aku latih deh,”
“Ha?”
“Iya,”
Sejak saat itu, aku mulai tahu kalau ternyata Shania sangat berbakat dalam tarik suara. Tiap sore dia mengajariku teknik vocal, membiarkanku praktek menyanyikan lagu, sambil sesekali membenarkan.
Dengan piano tua milik Ayahnya, dia mengiriku. Mengajariku cara mengepaskan lagu pada musik dan lain sebagainya hingga rasa percaya diriku tumbuh.
Satu-satu, daun-daun berguguran tinggalkan tangkainya.
Satu-satu burung kecil beterbangan tinggalkan sarangnya.
Jauh-jauh… tinggi… ke langit yang biru.
Andaikan aku punya sayap.
Kukan terbang jauh mengelilingi angkasa.
Kan kuajak Ayah Bundaku,
Terbang bersamaku
Melihat indahnya dunia.
Dan bahana tepuk tangan meruah melihat tampilanku pada hari yang telah ditentukan. Kali itu, aku mengenakan gaun putih panjang, dengan rambut tergerai panjang. Memakai bandana putih pula. Teman-temanku yang menyaksikan merasa surprise dengan penampilanku, meski saat itu aku tak mendapatkan juara.
Pada saat perpisahan, aku kembali menyanyikan lagu itu dan Shania mengiringiku dengan pianonya.
Masa-masa SD yang indah. Hanya Shania satu-satunya teman yang bisa menerimaku. Dan dia sangat mempercayaiku, begitu pula aku. Dia adalah teman yang begitu bisa menjaga rahasia. Selalu dewasa dalam menyikapi masalah. Ikut menangis kalau aku sedih, ikut tersenyum ketika aku bahagia.
Tapi… cerita mulai berubah ketika SMP. Cinta monyet merubah semuanya. Bahkan sampai saat ini.
Inilah cerita klasik yang terjadi berulang-ulang pada suatu persahabatan. Karena cinta, semuanya berubah.
Aku menjauhinya karena kecemburuanku. Kecemburuan menggerogotiku, ditambah teman-teman sekelas sering membicarakan mereka. Tak henti-henti mereka memanas-manasiku setiap hari. Shania tak pernah cerita apa dia menyukai Danang atau tidak. Hanya saja kulihat dia selalu tersenyum ketika nama Danang disebut. Bahkan ketika teman-teman menggosipkan mereka, ia sama sekali tak protes. Senyumnya malah makin melebar.
Tapi, di suatu ketika bertambahlah kegalauanku, kecemburuanku, dan hatiku makin terbakar ketika mengetahui status mereka.
“Shania pacaran sama Danang?”
“Iya, kenapa emang?” Sari melihat wajahku serius.
“Hmm… cocok kok,” aku tersenyum dengan hati perih.
“Emang cocok. Mereka itu pasangan paling cocok deh kalau kataku,”
Aku manggut-manggut dengan masih membawa senyum. Rasanya hatiku sakit dan nyaris hancur berkeping-keping saat itu.
Itulah awal aku mengenal yang namanya perasaan aneh, dan awal aku mengalami hati yang hancur.
Aku semakin menjauhi Shania. Hatiku tak bisa berbohong kalau aku sungguh terluka. Berkali-kali Shania menanyaiku mengapa aku menjauh. Tapi tak kujawab. Egoku memuncak, kecemburuanku juga tak lekang membakar hati.
Kebaikan Shania, pengorbanannya dulu, dan semua yang ada pada diri Shania nyaris tak tertancap dalam benakku saat itu. Kebencian menggerogoti seluruh nadiku.
***
Mendung menyelimuti suasana sore itu. Langit begitu muram semuram hatiku. Suram sesuram pikiranku. Petir pertalu-talu menyerbu menyaingi kerasnya hatiku. Dan sejenak kemudian, hujan turun deras sederas air mataku.
Kuliat mawar-mawar depan rumah yang basah oleh air hujan lewat jendela kamar. Hatiku makin perih mengingat mawar-mawar itu adalah pemberian Shania. Ingin sekali kubuang dan kuinjak-injak. Naluriku liar saat itu.
“LIA!” seru seseorang dari depan rumah.
“LIA” suara itu masih bertautan, berlomba-lomba dengan suara derasnya hujan.
Aku beranjak, ke ruang tamu dan nyaris membuka pintu.
“LIA!”
Aku mengenal suara itu. Kuintai sosoknya dari dalam. Kubuka sedikit tirai agar dia tak melihatku.
Shania. Ya itu Shania. Dia basah terguyur air hujan. Kulihat dia kedinginan, basah kuyup, dan… aku nyaris membukakan pintu.
“Kulihat mereka sering lho jalan berdua. Kadang nonton katanya,” cerita Dion saat di kelas mulai terngiang-ngiang. Membuatku urung membukakan pintu.
“LIA!!!”
Hatiku tersayat. Mataku makin basah. Aku tak punya keberanian membukanya. Egoku kembali memuncak.
“LIA!” suara itu terus terdengar. Terus menerus tanpa henti. Makin membuat hatiku mengeras. Rasa cemburuku meningkat, pikiranku mengingat tiap-tiap cerita yang sering diutarakan teman-teman sekelasku tentang dia dan dia. Dia sahabatku dan dia cinta pertamaku.
Aku beresembunyi di balik pintu. Duduk di lantai menepis hatiku sendiri. Tak kupedulikan sosok yang di luar itu.
Hujan mulai mereda. Suara Shania juga mereda. Aku beranjak dan mengintip luar dari tirai. Shania sudah tak ada.
Perlahan-lahan mulai kubuka pintu. Kemudian tengok kanan dan kiri. Tak ada siapa-siapa. kulihat hujan hanya tinggal rintiknya.
Sesaat mataku terbelalak. Kusaksikan sesuatu di depan pintu. Satu kado dan satu surat dengan amplop dengan gambar mawar warna kuning. Mawar lambang persahabatan, aku tahu itu.
Kuambil dan kubuka surat itu lebih dulu. Ada satu kartu cantik yang membuatku tertarik untuk membaca tiap deretan tulisan yang ada.
Dengarlah hai kawanku,
Nyanyianku untukmu,
Kukan selalu di sini
Menemanimu selalu sebagai seorang sahabatmu
Dalam suka dalam duka,
Dalam susah dalam senang
Kita kan selalu bergandeng tangan bersama.
Tanpa ada rasa benci, tanpa harap balas budi.
Itulah arti seorang sahabat sejati.
Bila bintang meredup,
Bila surya menghilang.
Tak kan pergi diriku.
Kan kupegang erat tanganmu selalu oh Sahbatku.
Dalam suka dalam duka.
Dalam susah dalam senang,
Kita kan selalu bergandeng tangan bersama.
Tanpa ada rasa benci,
Tanpa harap balas budi.
Itulah arti seorang sahabat sejati.
Usai membaca itu, kubaca tulisan pada kertas berikutnya.
Assalamu’alaikum Sobat.
Ingat lagu itu kan?
Itu lagu yang dulu pernah kita nyanyikan bareng di kelas satu bulan sebelum perpisahan SD.
Rasanya ingin sekali kembali ke masa lalu.
Ingin mengulang kepolosan itu,
Ingin mengulang canda riang itu.
Rasanya ingin sekali berbagi denganmu lagi.
Tapi, entah salahku apa sehingga saat ini suasana berubah.
Kenapa kamu menjauh?
Pertanyaan yang nyaris tak pernah kau jawab.
Sobat, aku merindukan masa itu.
Aku ingin kita seperti saat itu.
Saling mengerti, saling memahami.
Dulu… kita seolah tak kan terpisahkan.
Dulu.. kita seolah akan selalu bersama.
Dan aku sungguh ingin memutar masa lalu.
Tapi waktu menjadi sebaik-baik saksi.
Dan waktu terus berjalan sesuai durasinya.
Kita tak bisa menuntut.
Kita tak bisa memaksa.
Seperti aku yang tak bisa memaksamu untuk kembali menerimaku sebagai seorang sahabat yang dekat denganmu.
Bagiku kau masih sahabatku,
Fillah, kawan...Fillah.
Aku ingin terus menemanimu, menyeka air matamu, ikut bahagia bersamamu.
Tapi waktu telah berbicara. Bahwa hari ini, Allah akan membawaku ke suatu tempat. Yang akan membuat kita berpisah.
Terimakasih untuk semuanya.
Terimakasih telah sudi menjadi sahabatku.
Terimakasih untuk waktumu yang sempat kau lalui bersamaku.
Terimakasih sahabat…
Aku sungguh minta maaf jika aku salah,
Dengan kesalahan yang membuatmu menjauhiku, dengan kesalahan yang sepertinya tak termaafkan. Tapi aku sungguh mengharap maafmu.
Cukup maafmu. Meski aku tak bisa memaksamu untuk sudi menerimaku jadi sahabatmu lagi.
Terimakasih karena telah menyentuh hidupku.
Sampai jumpa sahabat.
Aku akan merindukanmu,
Doaku akan selalu bersamamu.
Sekali lagi maaf…
--Shania---
Setiap kata yang tergores mampu memijarkan seluruh jiwaku. Memijarkan segenap keperihan yang makin menyayat. Di ruang sisi aku rindu, dan di sisi lain aku amat membenci diriku sendiri.
Aku membuka kado itu dengan hati tak menentu. Kutemukan isi di dalamnya. Ada satu foto berbingkai. Foto yang tak lain adalah foto kami berdua saat SD.
Dan katapun membisu dalam hatiku. Entah… aku merasa tersiksa dengan diriku sendiri. Aku menyia-nyiakannya. Aku merasa sangat menyia-nyiakan seorang sahabat seperti dia. Dia yang tak pernah lelah mengharapkanku kembali bersahabat seperti sedia kala.
Aku berlari menelfon ke rumah Shania, ingin tahu dia mau pindah kemana. Tapi tak ada jawaban. Kemudian, kularikan diriku menuju rumahnya. Dengan perasaan tak menentu dan seolah tak pedulikan keadaan sekitar. Aku segera menyongsong rumahnya.
Tapi… kosong. Rumahnya sudah kosong. Aku luruh, dan aku merasa semakin membenci diriku sendiri.
***
Berita perpindahan Shania senter di kelas. Menjadi topik hangat pagi itu.
“Danang juga pindah?” Tanya Sari
Aku yang saat itu tengah menghapus tulisan di papan tulis, mulai tegak mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
“Iya, Danang juga pindah.”
Ada perasaan tersisih. Dugaan demi dugaan berkecamuk. Tapi kuusir rasa itu, mengingat betapa berharganya Shania. Juga mengingat aku yang selama ini sudah cukup bodoh dengan menyia-nyiakannya.
“Ya iyalah, ternyata Danang itu kan sodara Shania. Dia itu anak budhenya,” Budi menjawab enteng.
“OOo, pantes waktu itu waktu aku liat di mall lagi makan sama keluarganya. Kirain mereka pacaran sampe segitu akrabnya. Eh ternyata saudar. Ya terang aja mereka deket banget,” tambah Riska.
BUG! Penghapusku terjatuh. Ingin rasanya aku ikut terjatuh bersama pengapus itu. Ingin rasanya kucabik diriku senidri.
Semua mulai membicarakan tentang Shania dan Danang. Sangat enteng dan terkesan ringan buat mereka. Sangat bertolak belakang dengan keadaanku yang seolah sudah sangat berat menopang tubuhku sendiri.
Kemarin dengan mudahnya mereka menduga-duga status Shania dan Danang. Dan setelah hatiku hancur, setelah aku menghancurkan hati Shania, setelah aku kehilangan Shania, bahkan tak sempat untuk sekedar mengucap maaf, mereka dengan mudahnya dan tanpa rasa bersalah mengucapkan itu semua. Andai mereka tahu perasaanku, andai mereka tahu betapa menderitanya aku dengan kecemburuanku, dan andai mereka tahu kalau perasahabatanku hancur karena omongan mereka… Andai mereka tahu betapa hancurnya hatiku.
Seharusnya aku tak usah dengan mudah mendiamkan Shania. Harusnya aku tak dengan mudah cemburu padanya. Harusnya aku tanya yang sebenarnya terjadi. Tapi…
Betapa kecemburuan membuatku mempertahankan ego, bahkan sampai membakar hatiku dan hati sahabatku sendiri.
Allah… maafkan aku.
Sekarang, bagaimana aku harus minta maaf.
***
Di aula itu, hatiku gerimis. Mataku masih setia melihat tampilan anak-anak SD. Keceriaan mereka terus mengingatkankanku pada Shania.
Sampai detik ini,Tak pernah kutemukan lagi Shania. Tak terdengar kabar sedikitpun. Dia menghilang, menghilang dan tak pernah kembali. Setiap kuberdoa, selalu kupintakan kehadirannya. Setiap malam, aku berdoa agar bertemu dengannya lewat mimpi.
Tak ada habisnya kusesali kelakukanku sendiri. Bahkan sampai detik ini aku masih sangat menyesal.
Sejak itu, aku selalu berusaha menghargai kebaikan orang-orang terdekatku. Meski hanya satu kali, dua kali. Karena itu lebih berharga daripada meneliti ketidak baikannya.
Prasangkaku pada Shania membuatku menderita sendiri. Betapa kerasnya hatiku sehingga tak peka terhadap sahabatku sendiri. Dan sampai sekarang, penyesalan itu terus menggelayutiku.
Dia begitu menginginkan persahabatan yang Fillah. Hanya karena Allah. Dia sangat jarang membenciku karena kekuranganku. Dia berusaha melengkapiku dan ikut membantuku untuk jadi lebih baik. Semua itu karena-Nya.
Tapi kenapa aku terkalahkan dengan egoku sendiri saat tak bisa menerima akibat kecemburuan.
Betapa bodohnya aku saat itu.
Harusnya aku yang minta maaf…
Dan sekarang, bagaimana aku harus meminta maaf?
Padahal rindu terus menyayatku.
Sahabat… kau dimana???
Aku sungguh ingin bertemu.

Assalau'alaikum Mabak Fina i like Cerpen Satu jAm Terakhir CrItanya MnyEntuh Hati Banget
BalasHapus