PALESTINA OH PALESTINA
Palestina semakin menjadi ladang amal bagi yang masih memegang erat tali cinta pada Yang Maha Kuasa. Di pundak tiap manusia Palestina, terasa berat memikul beban derita yang berkepanjangan. Tapi perjuangan adalah kehidupan nyata yang harus dihadapi.
Israel masih terus menggerogoti jiwa raga manusia-manusia Palestina. Dan yahudi terus gencar dengan usahanya untuk merobohkan masjid Al-Aqsha. Palestina oh palestina…
Ribuan nyawa telah shahid. Pertumpahan darah terus terjadi. Anak-anakpun semakin diperkuat imannya. Orang-orang ,memperteguh hatinya dan terus menguatkan hatinya untuk siap menjemput gelar shahid.
Debu-debu bergulur kejam setiap hari. Menjadi saksi pertumpahan darah yang kian meruah. Setiap tetes darah adalah perjuangan. Di negri yang diberkahi ini, manusia di dalamnya berusaha untuk kuat.
***
Gaza kini terpuruk. Gaza merintih, dan hancur. Orang-orang berlarian ke sana kemari. Tak peduli anak-anak, tak peduli perempuan, tak peduli yang masih renta. Semuanya berjatuhan. Tangisan dan teriakan berkeliaran memenuhi udara. Bom-bom masih saja berjatuhan. Tak pedulikan masjid, tak pedulikan madrasah, tak pedulikan rumah-rumah muslim di Gaza.
Pertempuran semakin sengit. Pembalasan Israel sangat tak sebanding dengan peluncuran roket Hamas ke Israel. Ini tidak adil. Ini sungguh tidak adil.
“Peralatan rumah sakit sudah banyak yang tidak bisa difungsikan. Sudah tidak ada suku cadangnya,” Suara dokter spesialis itu menggerhatak hati Laila yang duduk meringkuk di lantai rumah sakit.
Dokter itu berjalan tergesa bersama salah seorang perawat. Keduanya berjalan menuju Unit Gawat Darurat yang tak pernah tertutup. Rumah sakit Shifa sudah penuh dengan korban. Terlebih, serangan Israel samkin membabi buta setiap hari. Jumlah korban meningkat pesat. Relawan-relawan dikerahkan. Tapi tetap saja, tak mencukupi untuk merawat pasien yang sedemikian banyaknya. Kelompok medis Palestina semakin kualahan. Dirasa rumah sakit sebenarnya sudah tak cukup untuk menampung para korban.
“Allah…” Suara Laila tertahan. Matanya bengkak. Ia lelah menangis. Dan tak ada gunanya menangis. Gadis bermata bundar tapi sayu berusaha terus menguatkan hati.
Tiga tahun lalu, ia kehilangan Ayahnya. Dua bulan berikutnya stelah syahid sang Ayah, Syarif, kakak tertuanya syahid. Dan yang terakhir Sulaim. Kakak keduanya yang masih berumur tujuh belas. Dia ikut syahid dan menyusul dua belahan jiwa Laila yang lain. Sulaim memiliki jiwa jihad yang berapi-api. Cita-citanya adalah merebut kemenangan atas Palestine, atau syahid di jalan-Nya.
. Semuanya terkena tembakan tentara Israel.
“La tahzan, innallaha ma’ana.” Pesan Ibu saat mendiang Ayahnya dikebumikan.
Sejak itu, ia berusaha tegar. Demi melihat Ibunya agar tak bersedih. Rasa tak tega melihat wajah Ibu yang semakin hari semakin dirundung derita.
Laila adalah anak satu-satunya yang masih dimiliki. Dan mentalnya telah dipersiapkan untuk menghadapi konflik yang makin sengit.
Sejak pengeboman Israel sabtu kemarin di Gaza, membuat Laila harus harus terus menggerus hatinya. Melihat Ibunda tercinta yang menjadi salah satu korban kekejaman zionis. Ia sendiri hanya mengalami luka-luka saat ada serangan dari mata-mata Israel. Saat itu, mereka juga menghantam rumah penduduk
Sementara Ibunya mengalami luka bakar yang parah saat hendak pulang dari masjid. Wanita renta tak berdaya itu langsung diangkat dan segera dilarikan ke rumah sakit. Abid dan Hasuna, dua sepupu sebayanya shahid dua hari lalu akibat serangan Israel juga.
Abid gugur di kampungnya, Syujaeya yang terletak di timur Gaza. Dan Hasuna gugur saat hendak dilarikan ke rumah sakit Syuhada al-Aqsha karena terkena ledakan bom saat Israel membombardir kampungnya.
“Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Suara itu terus memekik dan bertautan di segala penjuru. Bom-bom berjatuhan. Menjatuhi Gaza. Semua jadi luluh lantak. Korban berceceran. Gedung-gedung runtuh. Orang-orang berlarian. Bapak-bapak terlihat mengangkat anaknya yang terkulai meninggalkan dunia. Yang lainnya berlarian menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan. Raungan makin mengeras, masih banyak yang tertimpa reruntuhan. Pasrah…pasrah…pasrah…
Laila kini beranjak, ingin segera melihat Ibunya diantara korban-korban yang lain. Ia susuri ruangan, dan kemudian menghampiri Ibunya yang masih terkapar di pembaringan. Memegang tasbih di tangan kanannya. Tangan kirinya terkeda luka bakar yang amat parah. Kakinya patah karena tertimpa bangunan saat hendak melarikan diri dari ledakan.
“Bu…” sapa Laila dengan hati teriris. Ia berusaha untuk tidak merintih melihat kondisi Ibunya.
“Isbir…Isbir,” ucap Ibu yang tetap memejamkan mata. Lelehan air mata hangat mulai menyentuh pipi yang sudah keriput. Ia tetap tak mau membuka mata. Tak ingin melihat keadaan sekitar yang mengerikan. Tak ingin melihat korban-korban lain yang merintih itu. Cukup ia mendengar, tak perlu melihat…
“Iya, Bu.. Iya.” Ucap Laila hati-hati. Ia pelan semakin mendekat. Mengamati dimana bagian tubuh Ibunya yang tak terluka. Hanya wajah. Ya, hanya wajah Ibu saja yang masih sempurna. Tak ada goresan apapun. Laila mendekat dan mencium kening dan pipi Ibunya. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Ia tak bisa memeluknya, karena luka-luka pada tubuh Ibu hampir menyeluruh di sekujur tubuh.
“Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, haaaaaaaaaaaaaaaa,” jeritan bocah itu membuncah. Membuat Laila memalingkan wajah dari Ibunya.
“Pelurunya! Pelurunya!” Seorang Ibu menjerit-jerit sambil menggendong bocah perempuan yang masih berbalut jilbab putih itu.
“Iya, iya.” Perawat yang diajak bicara Ibu itu terlihat getir. Sementara ia sendiri tengah merawat pasien lain. Seorang nenek usia lanjut yang tangannya terkena letupan api.
“Cepat! Cepat!” ibu itu panik.
Laila segera berlari. Mempercepat langkah.
“Saya bantu, Bu.’ Ucapnya. Kemudian, dengan hati-hati ia merebut bocah itu dari tangan Ibunya. Bocah itu sudah berbalut perban sana-sini. Darahnya masih bercucuran. Belum mendapatkan penanganan yang sempurnya.
“Bawa ke UGD, Bu.” Ucap Laila ikut panik.
“Sudah, tapi di sana penuh.” Ibu itu menjawab dengan nada serak. Matanya merah penuh harap.
Laila beranjak dengan menggendong bocah yang terus menangis itu. Jalannya dipercepat untuk segera bertemu dokter bedah.
Ibu itu mengirinya. Sambil terus melafadzkan doa.
“Sabar, ya… Allah mencintaimu. Allah sangat menyayangimu.” Ucap Laila pada bocah itu.
Hati bocah itu bergetar. Membuatnya meredakan tangisan. Asma Allah menyatu dalam hatinya. Memenuhi jiwanya yang bersih. Ia pejamkan mata, pasrah…
“Baca ayat-ayat Qur’an yang kamu hafal,” ucap Laila.
Dan berdesirlah hati laila, ketika bacaan Qur’an dilafalkan dari mulut bocah kecil itu. Bacaan yang sangat bagus dan fashih.
“Dia hafal setengah Qur’an,” ucap Ibu itu.
“SubhanaAllah,” Laila terhenyak. Ia tetap meneruskan langkah. Melewati koridor yang sesak dipenuhi manusia-manusia senasib sepenanggungan.
Langkah Laila tertuju pada sebuah ruangan. Langsung menghampiri dokter Nashar.
“Dioperasi, Dok. Dia harus dioperasi segera,” teriak Laila.
“Kami sedang mengusahakan. Sangat sulit melakukan operasi saat ini.”
“Tapi bagaimana dok dengan anak ini?”
“Banyak yang harus segera dioperasi, tapi tidak memungkinkan. Sabarlah… kami sedang berusaha,”
“Tolonglah anak saya. Anisa terkena tembakan. Dan pecahan rudal… dan…”Ibu itu terus seseunggukan.
“ Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti (Al-Anfal : 65)” Anisa masih melantunkan ayat Qur’an sayup-sayup. Laila mendengarnya. Makin membuat tekadnya membaja untuk segera menyelamatkan bocah itu.
Seorang perawat perempuan segera menjemputnya. Kemudian bermasud mengambil Anisa dari Laila.
“….WALLAHU MA’ASH-SHABIRIIBN,” suara Anisa makin mengeras ketika mengakhiri ayat ke enampuluh enam dari surat Al-Anfal.
“Laa ilaaha illAllah,” Pekiknya kuat. Kemudian matanya terpejam. Tubuhnya kaku. Dan jantungnya berhenti sebelum perawat perhasil meraihnya dari tangan Laila.
Laila mendelik. Dugaan berkecamuk jadi satu. Apa dia sudah… Ya Allah selamatkan hafidz kecil ini…
Perawat kemudian memeriksa detak jantung Anisa. Kemudian Dokter Nashar mendekat dan turut memeriksa bocah yang masih digendong Laila.
“Innalillahi wa inna ilaihi Raji’un,” ucapnya.
“INNA LILLAH…” teriak Laila yang kemudian meraih .
“INI MUJAHIDAH, BU. MUJAHIDAH,” seru Laila sambil mendekap dan mencium Anisa penuh rasa cinta. Merasa haru akan kembalinya ahli surga.
Laila kemudian menyerahkan Anisa kepada Ibunya.
“Wa Laa tachsabann-alladziina Qutiluu fii sabiilillaahi amwaata, Bal achyaa’un ‘inda robbihim yurzaquun (Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[248] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. )(QS; 169).” Laila melafalkan satu ayat di surat Ali Imran. Berusaha menabahkan hati Ibu itu.
“Ahsantum…Ahsantum,” ucap Ibu itu seraya memeluk Anisa. Kemudian menciumnya penuh sayang.
“Allah lebih menyayangimu, nak.” Lanjut Ibu itu.
***
Malam yang getir. Laila hanya bisa tertidur sebentar malam ini. Ia tak dapat tidur lagi setelah itu. Dan kegetiran yang masih bersisa itu membuatnya selalu merindukan-Nya. Sepertiga malam yang tak sahdu. Rumah sakit masih penuh tangisan. Dan berulangkai bom-bom masih terdengar.
Laila baru saja menyelesaikan shalat tahajud. Berdoa sepanjang mungkin. Demi keselamatan muslim Palestina di dunia dan akhirat.
Perutnya tak berisi. Hari itu, ia hanya mengisi dengan roti keras yang ia temukan di tempat sampah rumah sakit. Entah milik siapa. Tapi lumayan, belum berjamur dan lumayan masih bersih. Demi mengganjal perutnya ia dengan suka hati memakannya.
Muslim Palestina banyak yang kelaparan. Nyaris tak ada makanan yang bisa dimakan. Bantuan tak segera datang. Lebih mengerikan lagi, tak ada air bersih, tak ada bahan bakar. Israel masih memblockade.
Laila beranjak menemui Ibunya yang masih terbaring. Sudah beberapa hari tak ada perkembangan tentang kesehatan ibu. Peralatan medis sangat minim. Bahkan jauh dari cukup. Dan peralatan khusus laboratorium, obat-obat utama, semuanya minim bahkan kosong. Ambulan-ambulan kehabisan bahan bakar. Menurut kabar, Mesir masih tak mau membuka pintu gerbang Rafah. Membuat pengiriman obat-obatan dan bahan medis lain tak bisa sampai di Gaza. Dokter-dokter yang dikirm dari negara-negara tetangga saja belum bisa masuk ke jalur Gaza.
“Bu…” ucap Laila.
Ibu membuka mata. Laila menghantarkan senyum.
“Ibu sudah makan?” Tanya Laila.
“Sudah, semalam sudah diberi makan sama perawat,”
“Hampir sepuluh Muharram, Bu.” Ucap Laila.
“Iya… kamu pasti ingat Ayahmu.” Jawab Ibu sambil tersenyum.
Laila mengangguk dan tetap tersenyum.
“Semoga Allah tetap melindungi Al-Aqsha, Bu.”
“Beruntung, waktu itu kita masih bisa sembahyang di masjid mulia itu ya,”
“Iya, Bu. Yahudi dan Zionis masih menyerangnya. Katanya mau cari kuil Yahudi di bawahnya,”
“Ibu masih ingat, waktu itu temboknya retak-retak. Padahal masjid itu sangat mulia. Sebelum naik ke langit, Rasulullah sempat berjamaah dengan duapuluh lima Rasul dan ribuan nabi. SubahanaAllah,”
“Tapi Yahudi menyamarkan masjid Al-Aqsha, Bu. Gambar-gambar yang beredar tentang wujud masjidil Aqsha itua bukan Al-Aqsha yang sebenarnya. Mereka menyebarluaskan gambar masjid sakhrah biar umat muslim dunia mengira gambar itu adalah masjidil Aqsha yang sebenarnya. Jadi mereka dengan mudah mengorek Al-Aqsha yang sebenarnya.”
“Masya Allah,” Ibu mengelus dada dengan tangan kanannya yang masih membawa tasbih.
“Mereka berusaha mengelabui muslim dunia supaya mengira kalau Al-Aqsha itu yang kubahnya keemasan.” Laila menerawang. Kali ini, pandangannya mengarah ke luar jendela.
“Padahal al-Aqsha sebenarnya kan yang ada di dekat masjid sakhrah itu,” tambah Ibu dengan air mata yang mulai meleleh.
“Sampai kapan, Bu…” Desah Laila.
“Sssst…. Itu rahasia Allah. Kita berusaha saja sebisa kita. Pertahankan Palestina kita,” Ungkap Ibu.
Laila tertunduk. Setelah itu menyandarkan kepalanya di dekat kepala Ibu, dan ia pejamkan mata. Kemudian mendengarkan Ibu yang mulai mengucap ta’awudz dan basmalah untuk membacakan ayat-ayat-Nya.
“…Idza jaa’a nashrullaahi wal fath…( Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat…)… innaHuu, Kaana taubaata…” Ibu memajamkan mata. Dan Lailapun masih memejakmkan mata.
“Laa ilaaha illAllah..” desah Ibu pelan. Sangat pelan, bagai bisikan yang indah. Penuh jeratan makna. Malaikan sudah merindukannya. Penguasa Langit ingin segera menjemput-Nya untuk berpulang. Perjuangan Ibu sudah tak terhitung jari. Hidupnya telah ia pasrahkan seluruhnya kepada Sang Pemilik Hidup. Segala kegetiran telah ia telan. Mengalami luka sudah biasa ia rasakan. Perjalanan hidup yang tak mudah. Perjalanan yang terus menyatukan hatinya untuk memberikan seutuh cinta untuk-Nya. Ia halau jalan terjal. Ia kerahkan segala kemampuannya. Dan kini, ia harus tenang berpulang meraih kebahagiaan yang hakiki.
Laila membuka mata, mengangkat wajah
.”Bu…” ucapnya pelan.
Tak ada jawaban. Hanya ia temukan wajah Ibu yang masih mengurai senyum. Wajah itu terlihat sangat tenang. Jauh berbeda ketimbang biasanya. Seperti tak ada beban derita. Seolah segala derita yang selama ini memenuhi jiwanya, telah terangkat. Yang ada hanya kebahagiaan.
“Bu..” ucapnya lagi. Kali ini lebih keras. Dan makin keras lagi begitu menyadari bahwa Ibunya sudah pulang ke rahmat Allah…
Seolah atap rumah sakit hendak runtuh malam itu. Laila terbata menata hatinya. Ia tak menangis lama. Ia segera mengusap air matanya dan memendam keperihannya sekuat mungkin. Ibu pernah berwasiat agar Laila tak menangis jika Ibu gugur menyusul Ayah. Tapi tak bisa. Ia harus berteriak. Hatinya sudah sesak. Hatinya tak kuat jika masih harus memendam…
***
Tak punya siapa-siapa. Ia sebatangkara. Yatim piatu dan menempuh hidup yang sulit ini dengan tekad untuk terus menyerahkan hidup kepada Sang Pemilik Kehidupan.
***
Tidak adakah nurani di sini… kapan negri ini terbebas dari tekanan yang terus perkepanjangan? Kapan penyiksaan selesai? Dan kapan Palestina benar-benar merdeka? Aku ingin seperti mereka di negri-negri lain. Yang dengan tentram menjalani hari-harinya. Merdeka merajut mimpi-mimpi dan harapan bersama keluarganya. Hidup dengan kedamaian tanpa bom-bom Israel. Hidup dengan ketenangan tanpa kegetiran atas peluru-peluru panas yang siap mengintai. Aku ingin berlari-lari sebebas mungkin tanpa intaian zionis. Aku ingin…Ah… tapi mungkin mereka juga ingin sepertiku. Sepertiku yang sejak kecil didik untuk kuat. Yang harus terbiasa hidup di tanah yang mulia. Sepertiku yang hidup di tempat yang di dalam kalam-Nya telah disebutkan sebagai wilayah yang diberkahi. Di tempat yang tanahnya pernah dihuni para nabi. Dan di tanah yang membuat penghuninya mengeruk amal perjuangan. Merasakan cinta-Nya yang begitu besar… dan Allahlah harapan satu-satunya…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar